ION KALTIM & BALIKPAPAN BIKER KAMPANYE KESELAMATAN BERKENDARA DI ACARA FAMILY DAY SPS TOTAL INDONESIE



Total E&P Indonesie salah satu perusahaan pelaku industri minyak dan gas bumi di Indonesia sangat memperhatikan faktor keselamatan dalam semua aspek kegiatannya. Tidak hanya di lingkungan kerja tapi juga di luar lingkungan kerja, setiap karyawannya diwajibkan untuk mengindahkan faktor kesehatan, keselamatan dan pertolongan terhadap lingkungan.
Salah satu area operasinya di wilayah Kutai Kertanegara, adalah Senipah-Peciko-South Mahakam (SPS) kembali mengadakan hajatan tahunan berupa SPS FAMILY DAY 2015 yang diadakan di Le Batakan Club yang merupakan pantai di kawasan Batakan, Balikpapan. Para karyawan beserta keluarga hadir dan berkumpul di program tersebut sambil mengikuti rangkaian program berupa games, hiburan musik sambil menikmati sajian makanan yang disediakan. Dan yang menarik panitia juga menyisipkan Safety Riding Campaign untuk keluarga sebagai salah satu aktivitas kegiatan.
Panitia meminta pribadi ke bro Kadir sebagai pembicara dan menyiapkan pamphlet untuk program tersebut. Kebetulan sekali ketua ION Kaltim dan forum Balikpapanbiker ini juga menjadi salah satu karyawan yang berlokasi kerja di area SPS Total Indonesie.

Pada hari acara, bro Kadir memberikan bahan Safety Riding yang spesifik untuk lingkungan keluarga, terutama permintaan untuk tidak membiarkan belum dewasa dan dewasa di bawah umum terlibat dalam perjalanan dengan sepeda motor, apalagi mengendarainya sendiri. Pamflet berjudul “Sayang Anak?” dan “Kenapa Harus Menggunakan Helm?” yang disiapkan ION Kaltim dan Balikpapanbiker segera diperbanyak oleh panitia Family Day ini dan dibagikan ke para karyawan dan keluarga yang hadir ketika itu.
Tidak tanggung-tanggung ketika presentasi singkat tersebut, panitia menyediakan dua hand phone merk terkenal untuk dua pertanyaan yang diberikan bro Kadir yang dapat dijawab oleh akseptor acara.

Semoga kegiatan-kegiatan menyerupai ini dapat member manfaat sebesar-besarnya buat masyarakat dan berharap kita semua lebih memperhatikan faktor keselamatan di jalan raya, terutama ketika berkendara dengan sepeda motor.

Bravo, terimakasih bapak-bapak panitia SPS Family Day 2015. Slogan keselamatan Total Indonesie berkumandang ke jalan raya Indonesia: I care for me, I care for you, I care for all.


Bro Kadir memberikan presentasi


Bro Kadir bersama keluarga


Pamflet "Sayang Anak?" halaman depan


Pamflet "Sayang Anak?" halaman belakang


Pamflet "Kenapa Harus Pakai Helm?" halaman depan


Pamflet "Kenapa Harus Pakai helm? halaman belakang

TURING YOGYA - GUCI - TEGAL - PEKALONGAN - TEMANGGUNG - MAGELANG


Sabtu, 3 Oktober 2015 pukul 08.00 WIB, saya yang bergabung dengan brothers dari Inazuma Owner Network (ION) Chapter Jogja memulai perjalanan dari secretariat ION Jogja di kediaman bro Eko Dimensi, Jl. Pandega di seputaran Kentungan, Yogyakarta. Dengan sebelumnya dilakukan journey safety briefing dan do’a bersama yang dipimpin eksklusif oleh Road Captain kali ini yakni bro Adi yang biasa dipaggil Pak Dokter alasannya memang profesinya sebagai seorang dokter. Rombongan yang diperkuat oleh 8 unit Suzuki Inazuma dan 6 personil dari ION Jogja (Adi, Heru, Bintang, Syiwa, Andre, Yongky), 1 dari ION Kalteng yang diwakili eksklusif oleh ketua chapter-nya bro Lukas Sigit yang berdomisili di Pangkalan Bun dan saya sendiri perwakilan dari ION chapter Kaltim. Bro Lukas sudah lebih dulu tiba di tanah jawa dengan kapal feri dari Pangkalan Bun ke Semarang. Sedangkan saya dengan transportasi laut yang sama dari Balikpapan ke Surabaya. Kemudian perjalanan darat saya lakukan seorang diri dari Surabaya ke Yogyakarta (silahkan baca artikel sebelumnya (SOLO TOURING BALIKPAPAN – SURABAYA – YOGYAKARTA).
Persiapan keberangkatan di Sekretariat ION Jogja

Beberapa brother ION Jogja yang lain turut hadir melepas keberangkatan tim menuju Guci, Tegal, Jawa Tengah yang dipilih oleh panitia sebagai tempat penyelenggaraan HUT ION Indonesia yang ke-2. Bro Eko dan Titok, ayah dan anak ini antusias menyiapkan akseptor sebagai tuan rumah di sekretariat tersebut. Juga bro Reza dan bro Prapto yang kebetulan berhalangan untuk bergabung ke Guci alasannya ada personal agenda sendiri yang bersamaan.
Rute yang dipilih yakni Yogya – Muntilan – Borobudur – Wonosobo – Banjarnegara – Purbalingga – Guci (213 km). Dan pulangnya akan mengambil rute Guci – Tegal – Pekalongan – Batang – Sukorejo – Temanggung – Secang – Magelang – Muntilan – Turi – Yogyakarta (279 km).
Istirahat pertama di Turi

Bro Adi yang berposisi sebagai road captain (RC) memimpin di depan, sedangkan saya berposisi nomor dua paling belakang sempurna di depan bro Andre yang berposisi sebagai sweeper. Perjalanan berjalanan lancar dan sempat istirahat di Turi alasannya ada akseptor rombongan yang terpisah yakni bro Bintang dan Syiwa. Kami menunggu di sebuah warung di tepi jalan
hingga mereka tiba dan bergabung kembali.

Peristirahatan kedua di Wonosobo. Warung Enthok Gobyos Bu Atik jadi pilihan, segaligus seluruh anggota rombongan menikmati makan siang. Hehehe… padahal gres jam 10 loh.
Melanjutkan perjalanan dengan dua kali nyasar kesudahannya kami tiba di pintu masuk Wisata Guci pada pukul 14.26 WIB. Tidak ada kendala sama sekali. Setelah memenuhi kewajiban untuk membayar biaya retribusi masuk, rombongan melanjutkan perjalanan dan sepuluh menit kemudian kami berhenti di Terminal Bus Guci untuk menikmati sate kambing muda khas Guci. 
Istirahat di Wonosobo

Lumayan lama kami menikmati menú sate kambing muda tersebut dan bertukar kisah wacana perjalanan yang gres kami lakukan dari Yogyakarta sampai tiba di Guci. Tidak lama dua unit Inazuma dari Jakarta atau Cirebon, saya lupa pastinya (maaf ya bro) dengan salah satu membonceng pasangan tiba di lokasi yang sama. Setelah bertegur sapa dan berjabat tangan, mereka memutuskan untuk segera ke lokasi program HUT ION dan meninggalkan kami yang sedang menikmati makan besar ketika itu.


Pintu gerbang Wisata Guci

Selesai dengan sate kambing muda, rombongan bergerak menuju Hotel Sankita yang menjadi lokasi program HUT ION Indonesia Ke-2 tahun 2015. Pukul 15.30 rombongan ION Jogja, saya dan bro Lukas tiba di Hotel Sankita. Tujuh setengah jam waktu yang cukup lama untuk menempuh perjalanan ini. Kan bukan Cuma turing tapi wisata masakan juga bro, jadi banyak mampirnya hehehe… Beberapa kontingen ION dari chapter yang lain sudah berada di lokasi
Sate kambing muda di Terminal Guci
hotel. Kami disambut oleh IONer yang lebih dulu tiba dan panitia. Keakraban ala biker begitu kental terlihat ketika itu.
Suasana menyerupai ini loh yang bikin saya semangat untuk datang jauh-jauh dari Balikpapan, brotherhood and togetherness sesama biker.
Setelah menerima kamar, kami eksklusif menuju kamar untuk beristirahat. Saya satu kamar dengan bro Andre dan bro Lukas. Tidak menyia-nyiakan waktu lama, saya segera menganti pakaian dengan celana renang dan eksklusif menuju kolam renang air panas yang tersedia di depan kamar hotel. Bro Adi, Yongky, Heru, Syiwa, Lukas, dan Andre ikut bergabung. Juga beberapa brother dari chapter lain menyerupai bro Handoko dari Jakarta dan Remy dari Tasikmalaya.
Lokasi program HUT ION Ke-2 di Hotel Sankita, Guci

Malam hari setelah makan malam, program inti pentas musik, ramah tamah, pemutaran video ION Indonesia dan pembagian door prize dimulai. Acara dikemas sederhana tapi tidak menghilangkan suasana erat dan nilai kebersamaan dan persaudaraan sesama IONer. Salut buat panitia.
Seluruh Ketua atau perwakilan Chapter ION berkumpul dan menerima potongan nasi tumpeng dari Ketua Umum ION Indonesia, bro Ari Widodo.

Berenang dan berendam air panas di kolam renang hotel

Sambil menikmati MC kowar-kowar dengan canda-canda segar di panggung diselingi irama dangdut dari grup electone lokal, kami terjun dalam suasana erat sesama biker ala ION. Minuman kopi, teh dan jahe panas tersedia untuk diambil sendiri, begitu juga dengan makanan ringan jagung rebús, kacang rebús dan telo rebús yang masih panas suasana menjadi serasa kembali ke desa.

Acara puncak HUT ION Ke-2 di Hotel Sankita, Guci, Tegal

Saat pemutaran video ION Indonesia tampak foto sepeda motor inazuma kesayanganku menjadi penutup film, wah besar hati juga rasanya. Oh iya, selain menerima bingkisan khusus berupa tas Suzuki dan polo shirt dari Motorave sebagai akseptor terjauh (saya dan bro Lukas), saya juga mendapat hadiah doorprize berupa helm full face keluaran Suzuki warna putih. Tapi sebagai imbalannya kami yang mendapat hadiah doorprize harus joget bareng penyanyi di atas panggung. Mayoritas IONer yang hadir tetap setia mengikuti program sampai program berakhir malam itu.
Potongan tumpeng ultah ION dari ketum ION Indonesia


Minggu, 4 Oktober 2015. Pagi-pagi saya beranjak dari tempat tidur dan eksklusif mandi dengan air panas alam yang tersedia dari shower di kamar mandi. Maklum alasannya air panasnya eksklusif dari alam jadi tidak mampu diatur suhu airnya, yah terima apa adanya. Memang awalnya berasa panas banget tapi lama kelamaan tidak. Bro Lukas dan Andre nampak masih nyenyak di balik selimut dan usai
Nyobain Sauto Tauco Tegal
berpakaian saya keluar kamar untuk mempersiapkan sepeda motor. Di kolam renang bro Heru, Syiwa dan bro Husni dari Pekalongan lagi asik berendam air panas. Wah kalo tadi tau menyerupai itu saya bergabung dengan mereka di kolam sebelum mandi. Bro Adi yang sudah rapi nampak sudah memanaskan Inazumanya. Sambil menunggu teman-teman yang lain siap kami berfoto ria dengan sesama akseptor lainnya.
Setelah sarapan dan foto
Sauto Tauco
bareng dengan bro Tommy Ernawan dari Motorave yang mengendarai Kawasaki Versys 650, kami bergerak meninggalkan lokasi program untuk pulang ke tempat masing-masing.


Salah satu SPBU di kota Tegal
Iringan Inazuma antara ION Jogja dan Jakarta berjalan menyusuri turunan dari lokasi program menuju Slawi. Di sebuah pertigaan rombongan terpecah dua sesuai tujuan masing-masing rombongan. Kami segera melanjutkan perjalanan dan bro Andre mengambil rute sendiri untuk eksklusif ke Yogyakarta, sedangkan rombongan ION Jogja lainnya menuju Pekalongan.
Terpisah dari rombongan di Pekalongan
Kali ini di rombongan ION Jogja ada saya, bro Lukas, bro Adi tetap sebagai RC, bro Yongky, bro Heru, bro Bintang, bro Syiwa dan bro Husni dari ION Pekalongan. Perjalanan terbilang lancar dengan beberapa kali singgah untuk mengunjungi sahabat salah satu personil dalam rombongan atau mencoba masakan setempat. Di Pekalongan rombongan sempat terpecah dua dan rombongan di belakang yang terdiri dari bro Yongky, Lukas dan saya terpaksa berhenti di depan Mako Brimob untuk disusul teman-teman lainnya. Setelah istiraha sholat Juhur di rumah bro Husni di Pekalongan, kami yang tinggal 7 orang kembali melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Melintasi Jalur Pantura terasa lebih melelahkan dengan berhadapan dengan bus-bus besar dan truk gandeng serta truk tangki, ditambah lagi banyak permukaan jalan bergelombong dan sebagian jalan mengalami perbaikan. Angin kencang juga sangat mensugesti kestabilan motor kami sampai kami tidak mampu memacu lebih kencang.
Memasuki tempat Batang, Sukorejo sampai Temanggung kembali kami menerima rute 
Bakso ulek Temanggung
yang mengasyikan. Jalan yang tidak terlalu lebar namun dengan kualitas aspal yang baik serta variasi jalan berkelok-kelok menanjak dan menurun. Hingga kesudahannya kami tiba di Temanggung untuk istirahat dan makan bakso ulek di depan SMP N 3 Temanggung. Kembali kami berfoto ria sore itu di kota Temanggung dan kemudian berpamitan dengan bro Lukas yang memang asli orang Temanggung yang ketika ini berdomisili di Pangkalan Bun, Kalteng. Perjalanan kami lanjutkan menuju Yogyakarta dengan rute Temanggung – Secang – Magelang – Turi – Yogyakarta.

Foto bareng sebelum berpisah dengan bro Lukas di Temanggung


Perjalanan terbilang lancar sampai tiba di sekretariat ION Chapter Jogja di rumah bro Eko sebagai ketua harian (lurah) ION Jogja. Istirahat sejenak sambil ngobrol dan satu persatu anggota tim turing ini berpamitan untuk kembali ke kediaman masing-masing. Wah perjalanan pertama saya dengan ION Jogja yang menyenangkan. Trimakasih ION Jogja, biar kita mampu turing bareng lagi di kesempatan berikutnya. Bravo ION Jogja, Bravo ION Indonesia dan selamat ulang tahun yang ke dua. Semoga persaudaraan ini makin erat dan kebersamaan kita makin terjaga.
Foto bareng bro Tommy Ernawan dari Motorave (helm hijau stabilo)


TOURING & CAVING DI PERUT BUMI GUA KALISUCI




Di kota kelahiran Balikpapan, Kaltim, semenjak kecil balikpapanbiker sudah dekat dengan dunia air. Kampung halaman yang dekat dengan pantai membuat masa kecil hampir tiap hari berada di pantai, baik main bola kaki, layang-layang dan permainan lainnya. Biasanya semua permainan itu akan ditutup dengan berenang di laut atau istilah yang digunakan ketika itu “mandi laut”.

Hiburan life music dari cowok pokdarwis
Lain Balikpapan, lain juga Yogyakarta. Laut Pantai Selatan yang membentang dari Kulonprogo, Bantul hingga pantai-pantai berpasir putih di Gunungkidul sungguh sangat bagus memiliki kekhususannya masing-masing. Tapi kali ini balikpapanbiker bukan akan berbasah-basah di air laut provinsi yang kaya dengan obyek wisatanya ini, melainkan akan berkunjung ke sungai dan gua di Gunungkidul yang tidak dimiliki kota Balikpapan.

Kalisuci
Sabtu, 14 Mei 2016, berangkat dari Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul balikpapanbiker bersama dua sobat (bro Bangun dan Ferry) kembali berkendara sekitar 30 km menuju obyek wisata alam lainnya, yaitu Kalisuci di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu yang juga masih termasuk dalam Kabupaten Gunungkidul. Dengan dua sepeda motor berbeda genre tersebut balikpapanbiker and friends tiba di lokasi wisata ini dalam waktu kurang dari satu jam.

Meja retribusi di area pendopo
Kalisuci yakni sebuah sungai yang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo. Sungai ini menjadi unik alasannya yakni tidak hanya mengalir di permukaan tanah tetapi juga terus mengalir dalam perut bumi. Ya inilah salah satu sungai yang terbentuk secara alami oleh alam dan menjadi fenomena unik dan menarik yang kesudahannya menjadi obyek wisata andalan yang berdampak pada perekonomian warga sekitar.

Nama Kalisuci disematkan alasannya yakni terdapatnya mata air yang berada di sebelah atas pemikiran sungai yang berair sangat jernih dan walaupun air sungai menjadi keruh ketika datangnya animo hujan, air di sumber air tersebut tetap jernih. Seperti daerah Kabupaten Gunungkidul lainnya, desa ini juga merupakan daerah tandus dan gersang alasannya yakni hampir semua topografi wilayahnya terdiri dari perbukitan kapur atau karst. Tadinya sumber mata air ini merupakan satu-satunya sumber kehidupan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari untuk mencuci, mandi bahkan minum. Bahkan tanpa dimasak, sumber air Kalisuci mampu pribadi diminum alasannya yakni belum tercemar limbah apapun.

Perlengkapan pelindung tersedia utk tiap pengunjung
Keindahan alam sepanjang pemikiran Kalisuci ini juga tidak kalah menariknya hingga masuk ke dalam gua yang kaya dengan stalagtit dan stalagmitnya.

Cave Tubing
Menyusuri sungai Kalisuci yang mengalir melewati gua-gua bawah tanah yakni wisata petualangan yang ditawarkan di sini. Menyusuri gua tersebut para pengunjung tidak menggunakan perahu karet namun menggunakan ban-ban dalam yang telah disediakan. Sehingga istilah yang digunakan untuk kegiatan ini yakni cave tubing yang merupakan perpaduan petualangan menyusuri gua (caving) dan body rafting dengan ban dalam (tubing). Menurut para pemandu wisata ini, cave tubing hanya ada di tiga Negara: Meksiko, Selandia Baru dan Indonesia salah satunya di Kalisuci ini.

Sudah mengenakan PPE nih
Setelah memarkirkan sepeda motor, balikpapanbiker dan dua biker dari Kos Jamblang menuju meja retribusi yang berada di Pendopo. Suasana pendopo cukup ramai dengan para pengunjung dan para cowok desa yang tergabung dalam pokdarwis yang mengelola wisata ini. Organ tunggal dengan sound system-nya dan seorang gadis desa nan cantik mengalunkan beberapa lagu untuk menghibur pengunjung.

Biaya retribusi untuk mengikuti wisata petualangan ini yakni 70.000 rupiah per orang. Dan alasannya yakni hari libur, pengunjung tidak perlu membawa rombongan sendiri yang harus berjumlah minimal 5 orang sebagai syarat untuk jalannya cave tubing. Setelah digabungkan dengan pengunjung lainnya, tim yang balikpapanbiker ikuti berjumlah 12 pengunjung dan 4 orang di antaranya berasal dari Malaysia.

Starting point
Personal Protective Equipment (PPE) dikenakan di badan setiap calon penerima di area pendopo. Mulai dari rafting helmet, life jacket, dan body protector pada lutut dan siku. Tim berjalan turun menuju sungai dengan menyusuri tangga dengan dikawal oleh para cowok yang telah mengenakan PPE yang sama, hanya saja mereka dilengkapi juga dengan headlamp dan rubber boot. Ada 4 orang pemandu yang mengawal tim ini. Dan sebelum masing-masing pengunjung turun ke air, pemandu memperlihatkan safety briefing dan memeriksa kembali perlengkapan pelindung yang telah kami kenakan.

Menyusuri sungai di perut bumi
Sebelum betul-betul masuk ke sungai, balikpapanbiker and friends berpose ria untuk diambil gambar dan ketika masing-masing kami sudah berada di atas ban dan mengapung di sungai, cameramen kembali mengambil foto untuk setiap pengujung. Lengkap juga pelayanan mereka untuk wisata ini.

Main Air di Perut Bumi
Memasuki dan menyusuri gua atau dikenal dengan istilah caving untuk balikpapanbiker yakni kali kedua di Yogyakarta ini. Sebelumnya Gua Kiskendo yang berada di Kulonprogo dan kemudian Gua Kalisuci ini.

Mulai memasuki melintasi verbal gua dan makin dalam memasuki ke perut bumi dengan mengikuti arus air sungai sungguh pengalaman yang tak terlupakan. Berbaring di atas ban dalam sambil melihat ke atas mencicipi gelapnya gua, bunyi pemikiran air, suhu yang lebih dingin, kelelawar pemakan buah yang bergantungan di langit gua di antara stalaktit dan drapery (gorden) berpadu dengan bunyi lantang para pemandu yang terus berbicara menjelaskan apa saja yang ada di dalam gua tersebut. Di tepi sungai nampak stalakmit menyembul dan di dinding gua juga nampak flowstone yang terbentuk alasannya yakni penumpukan larutan kapur, wow…amazing!

Mengikuti arus sungai dengan tube
Arus air terus menghanyutkan kami menyusuri sungai di dalam gua dan sekali-kali para pemandu mengarahkan gerakan ban yang kami tumpangi ketika melintasi teladas yang cukup tinggi dan berarus lebih deras. Di beberapa titik kami mencicipi keheningan gua dan di titik yang lain kami dibiarkan untuk turun dari ban untuk berenang, bermain air atau berfoto ria. Begitu keluar dari verbal gua, dinding terjal bukit kapur yang ditumbuhi tanaman dan pepohonan hijau berpadu dengan siraman cahaya sang Surya memperlihatkan pemandangan yang tidak kalah menarik dibanding waktu kami memasuki gua.

Ya, berdasarkan proses terbentuknya, gua dibagi dalam tiga macam. Gua lava yang terbentuk akhir acara vulkanik, gua littoral yang terbentuk akhir erosi oleh angin dan ombak laut dan gua limenstone atau kapur yang terbentuk akhir erosi air pada batuan kapur di dalam tanah. Gua-gua di Indonesia kebanyakan yakni jenis yang terakhir, termasuk gua Kalisuci ini.

Bersama bro Bangun & Ferry
Setelah sekitar satu setengah jam bermain air di perut bumi dengan panjang rute 500an meter, balikpapanbiker dan pengunjung lainnya harus menyudahi wisata petualangan ini.

Ternyata perjuangan berat dari seluruh sesi cave tubing Kalisuci ini terletak pada selesai perjalanan, yaitu ketika keluar dari sungai menuju lokasi parkir dimana kendaraan beroda empat pickup menunggu untuk menjemput rombongan.

Jalan dari tepi sungai memang sudah terbuat dari undakan anak tangga dari semen dan dilengkapi handrail besi yang kokoh, namun sudut kemiringan tangga yang terlalu terjal membuat stamina pengunjung betul-betul terkuras. Dan bab ini tidak disampaikan dalam safety briefing di awal tadi. Salah satu penerima dari Malaysia tampak sangat kelelahan dan sangat pucat sehingga harus dibantu untuk mendaki anak tangga.

Bermain air
Setelah melintasi anak tangga sebuah tanah datar dan rumah penduduk dengan pekarangan yang cukup luas terlihat begitu indah. Jangan salah dulu bradsis, bukannya rumah dan pekarangan tersebut berbentuk bagus atau adanya halaman rumah dengan bunga-bunga bermekaran, tapi hanya alasannya yakni tanah yang datar dan penanjakan “neraka” telah berakhir sehingga itu yang membuatnya begitu indah. Penyelenggara juga telah menyiapkan air mineral untuk kami dan juga tersedia satu tabung oksigen beserta selang pernapasan untuk kondisi darurat kalau ada pengunjung yang perlu menerima santunan medis.

Kamipun menaiki kendaraan beroda empat pickup jemputan dan perjalanan dilanjutkan hingga kembali ke pendopo lokasi start dengan kendaraan roda empat ini.


Batuan besar di verbal gua
Singkat dongeng kami bilas di kamar mandi yang telah disediakan, berganti baju dan berkemas-kemas untuk melaksanakan turing kembali ke kota Jogja. Sebenarnya panitia juga menyediakan mie rebus dan teh hangat yang menjadi bab dari paket kegiatan ini tapi alasannya yakni masih merasa kenyang dan kuatir mata menjadi mengantuk kami tidak mengambil kemudahan makanan tersebut.

Sungguh pengalaman yang menarik dan patut bradsis coba kalau berkunjung ke Yogyakarta. Touring and Caving, siapa takut!


Titik Koordinat:

Kalisuci
 8°0'37"S 110°38'19"E

KEBUN BUAH & HUTAN PINUS MANGUNAN DAN PUNCAK BECICI



Dear all bro ‘n sis,
Mat jumpa lagi bradsis. Seperti turing-turing sebelumnya, balikpapanbiker masih ngebolang di seputaran Jogja. Kali ini wisata alam dengan panorama cantik jadi target. Dan turing kali ini mampu dibilang turing survey untuk kunjungan berikutnya, makanya turing ini balikpapanbiker lakukan seorang diri alias solo riding dan lokasi yang ditujupun gak jauh-jauh bro, cuma kisaran satu jam perjalanan. Lah iya lah pake sepeda motor, moso jalan kaki bro.
Ada tiga obyek yang semuanya sama menariknya. Sesuai judul artikel ini yaitu Kebun Buah Mangunan, Hutan Pinus Mangunan dan Puncak Becici di Bantul. Terus satu bonus touring culinary yaitu Sate Klathak Pak Pong di Imogiri.
Ok bradsis, pribadi disimak aja alkisah berikut ini….

Rute Imogiri
Selasa, 2 Agustus 2016. Dari semalam niatnya sih mau berangkat dini hari agar dapat the best momment di Kebun Buah Mangunan tapi alasannya yakni molor alhasil gres pukul 05.30 gres bangkit dan siap-siap. Dan setelah kepergok orang rumah alhasil harus sarapan dulu sebelum berangkat. Padahal rencananya untuk ngirit waktu, balikpapanbiker mau sarapan di jalan, kan Jogja 24 jam ada aja warung makan yang buka.
Persiapan dari kost. Inaz tanpa side box

Akhirnya start dari rumah dinas (kost-kostan maksudnya hehehe..) pukul 06.30 waktu Jogja. Sudah terperinci banget sih tapi udara masih agak dingin.
Android-pun duduk manis di bracket-nya di atas stang, bluetooth aktif dan terkoneksi dengan communicator di helm. Setting monitor ke glove mode biar touch screen tetap ok disentuh pake safety riding gloves. Google maps dibuka dan target dipilih, Kebun Buah Mangunan, Mangunan, Dlingo, Bantul. Ok, perjalanan dimulai.
Rute tercepat 59 menit dengan jarak 30,5 km kata google maps. Menyusuri Ringroad Utara hingga bertemu pertigaan lampu merah. Berbelok ke kanan menyusuri Jl. Raya Solo/Jl. Laksda Adisucipto hingga bertemu bang jo berikutnya dan tanpa berhenti berbelok ke kiri masuk ke Jl. Janti dan naik ke fly over dan kembali masuk ke ringroad namun kali ini Ringroad Timur. Terus menyusuri Ringroad Timur hingga berganti menjadi Ringroad Selatan. Bertemu perempatan Giwangan, kembali balikpapanbiker berbelok ke kiri atau kea rah selatan dan menyusuri Jl. Imogiri Timur. Sebenarnya sih tinggal ikutin aja jalan ini tapi alasannya yakni ada perbaikan jembatan, jalan dialihkan berbelok ke kanan. No masalah bro, alhasil kembali lagi ke Jl. Imogiri Timur sesuai isyarat GPS dari Google maps. Di pertigaan berikutnya berbelok ke kiri masuk ke Jl. Makam Raja lalu di perempatan berikutnya belok ke kanan dan terus mengikuti Jl. Mangunan yang kaya dengan tikungan dan jalan yang naik dan turun. Menjelajahi Jl. Mangunan yang rindang ini hingga bertemu perempatan kebun buah Mangunan dan berbelok ke kanan hingga bertemu pintu gerbang Kebun Buah Mangunan. Di perhentian berikutnya balikpapanbiker mengganti tiket retribusi dengan 4.750 rupiah. Biaya ini sudah termasuk tiket masuk dan biaya parkir untuk sepeda motor. Kembali melanjutkan perjalanan dan melintasi sebuah embung atau telaga buatan. Setelah embung ini, kondisi jalan menanjak terjal dan riding skill harus di seting ke light offroad. Sekitar empat ratus meter sudah tiba di lokasi parkir di Menara Pandang.

Kebun Buah Mangunan
Kebun Buah Mangunan terletak di Dusun Mangunan, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul yang berbatasan pribadi dengan Kabupaten Gunungkidul.
Kalau di Bogor ada Taman Buah Mekarsari, nah Kebun Buah Mangunan ini rencananya akan dibuat menyerupai itu dengan banyak sekali macam pohon buah ditanam di sini. Tapi sayang alasannya yakni keterbatasan dana, kebun buah ini masih dalam tahap pembangunan dan benar-benar akan menjadi menyerupai yang direncanakan.
Parkir hingga di puncak Kebun Buah Mangunan

Tadinya bukit yang tingginya 200 m di atas permukaan laut ini merupakan lahan perkebunan milik kas desa dan sebagian lagi milik individu warga setempat dengan sebagian lainnya berupa hutan. Saat ini pengelolaannya di bawah Dinas Perkebunan dan Perhutanan, demikian hasil obrolan balikpapanbiker dengan Pak Mardjianto, warga setempat yang bertugas di obyek wisata ini.
“Buka lahan tahun 2003 final dan mulai rame tahun 2013 setelah komunitas backpacker Indonesia berkunjung ke wisata ini” kata Pak Mardjianto. Beliau juga bilang kalau mau datang ke obyek wisata ini subuh-subuh juga mampu alasannya yakni jam 04.00 loket sudah buka. Mau camping juga mampu bradsis, alasannya yakni di sini di sediakan camping ground di area 1, 2 maupun 3.
Selain akomodasi camping ground di sini juga tersedia akomodasi area outbond, taman bermain, taman buah dan telaga. Namun kebanyakan pengunjung yang datang lebih mengejar pemandangan cantik di puncak komplek ini, terutama ketika matahari terbit.
Salah satu gardu pandang di Kebun Buah Mangunan

Walaupun tiba di lokasi Menara Pandang pukul 07.30, tapi kabut tebal masih tersisa di lembah yang membuat semua yang ada di sana serasa berada di atas awan. Tampak juga di dasar lembah Kali Oyo mengalir berdampingan dengan jalan desa. Pemandangan ketika itu saja membuat balikpapanbiker takjub, bagaimana kalau lebih pagi lagi? Pasti lebih menakjubkan.

Hutan Pinus Mangunan
Sekitar 10 menit perjalanan dari Kebun Buah Mangunan dengan sepeda motor kesayangan, balikpapanbiker tiba di daerah hutan pinus yang rimbun. Benar ternyata mereka yang sudah pernah ke daerah ini menyebutnya menyerupai lokasi hutan pinus di film Twilight Saga. Terus kalau sudah begitu yang jadi vampir-nya siapa dong? Hehehe…

Panggung pertunjukkan di tengah hutan pinus
Lokasi Hutan Pinus Mangunan terletak di Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul sama dengan Kebun Buah Mangunan.So, bradsis ingat di Dlingo, bukan di Imogiri. Memang sih aksesnya mampu dicapai melalui Imogiri tempat makamnya para raja sehingga banyak yang menyebut Kebun Buah Imogiri. Walaupun sama-sama di Kabupaten Bantul namun antara Dlingo dan Imogiri yakni dua kecamatan yang berbeda.
Setelah membayar biaya retribusi sebesar 3.000 rupiah, balikpapanbiker langsung memarkirkan sepeda motor di tempat parkir yang disediakan. Wah, tempat parkir motornya sudah dilengkapi atap pelindung dan dapat menampung ratusan sepeda motor. Dekat dengan lokasi parkir juga banyak terdapat warung makanan dan minuman yang tertata rapi dengan ciri khas atap dari daun kelapa (blarak) dan tiang serta dinding semi terbuka yang dibiarkan alami tanpa cat menambah asri lingkungan wisata ini. Balikpapanbiker segera bergegas berkeliling menuju daerah hutan pinus dan sebelumnya menitipkan jaket dan helm ke warung Handayani yang merupakan warung tertua di daerah ini.
Siang bolong jadi teduh di antara pohon pinus yang menjulang

Dari lokasi parkir balikpapanbiker tidak pribadi menyeberang jalan tapi menyusuri tepi jalan menuju panggung kayu terdapat di antara hutan pinus. Untuk masuk ke area panggung tersebut perlu menunjukkan biaya 2.500 rupiah, tapi dengan memasukkan satu lembar uang 2.000 rupiah saja ke kotak yang disediakan, petugas yang menjaga sudah memperbolehkan masuk.
Panggung kayu dan tempat duduk terbuat dari gelondongan batang pohon dibiarkan dengan warna alami membentuk setengah bulat menghadap ke panggung. Pasti seru nih kalau diadakan pentas seni di atas panggung dan kita nonton sambil duduk di gelondongan kayu dengan naungan rindangnya pohon-pohon pinus.
Kemudian balikpapanbiker beralih ke hutan pinus di seberang jalan. Kurang lebih 500 hektar luas hutan pinus ini sungguh menunjukkan nuansa tersendiri. Dan dari obrolan salah satu petugas parkir dari warga setempat, katanya area ini tadinya gundul dan gersang loh. Tapi kalau bradsis melihat pribadi kondisi ketika ini pasti tidak akan menyangka kondisi sebelumnya menyerupai itu.
Betah rasanya berlama-lama di hutan pinus di wilayah Resor Pemangku Hutan (RPH) Mangunan ini.
Pengunjung di antara hutan pinus
Udara sejuk dan rindangnya pinus-pinus serta jalan setapak berbukit-bukit, bikin sehat bro. Kalau diperhatikan yang berkunjung di sini kebanyakan anak muda yang sibuk dengan kamera android-nya untuk mengabadikan diri atau bersama sobat atau pasangannya. Beberapa akomodasi pendukung juga tersedia menyerupai panggung-panggung yang berada di atas pohon pinus dan bahkan ada yang tinggi sekali dan cukup bikin deg deg ser.. buat siapa saja yang menaikinya. Apalagi letaknya berdampingan dengan lembah yang dipenuhi pepohonan.

Beberapa tenda juga berdiri di antara pohon pinus yang nampaknya beberapa pengunjung ada yang menginap di lokasi ini. Mas Kaswanto salah satu cowok desa yang ikut mengelola di sini menginformasikan ke balikpapanbiker bahwa lokasi ini juga kerap digunakan pengunjung untuk camping. Pengelola mewajibkan mereka untuk membayar biaya retribusi sebesar IDR 15.000/orang dan meminta untuk betul-betul menjaga hutan yang ada dan juga tidak meninggalkan sampah.

Puncak Becici
Setelah puas berkunjung ke Hutan Pinus Mangunan, balikpapanbiker kembali melanjutkan solo riding-nya dengan menyusuri Jl. Imogiri-Patuk. Kali ini tujuannya yakni Puncak Becici yang masih dalam naungan RPH Mangunan.
Pemandangan cantik dari puncak becici
Hanya butuh 7 menit dengan sepeda motor atau 44 menit jikalau mencoba untuk trekking dari Hutan Pinus Mangunan ke Puncak Becici yang berjarak 3,4 km. Sepanjang jalan bayangan pohon-pohon pinus menutupi sepanjang jalan aspal yang membuat rindang rute ini.
Tiba di lokasi petugas parkir pribadi menyambut di obyek wisata yang beralamat di Jl. Imogiri-Patuk Km 13, Dusun Gunungcilik, Desa Muntuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul ini. Biaya retribusi 3.000 rupiah balikpapanbiker serahkan dengan selembar uang 5.000 rupiah. Sengaja kembalian 2.000 rupiah tidak diambil alasannya yakni sekaligus numpang titip helm dan jaket.
Sebelum meninggalkan area parkir, balikpapanbiker menyempatkan diri ngobrol dengan salah satu cowok yang bertugas di obyek wisata ini.
Pengunjung di salah satu gardu pandang
“Sudah dibuka sih Nopember 2014, tapi mulai ramenya pertengahan 2015” kata Alfian Julianto membuka pembicaraan. Selain akomodasi wajib menyerupai toilet dan kedai makanan dan minuman di sini juga terdapat akomodasi area outbond, camping ground, gardu-gardu pandang di atas pohon dan tempat bermain anak.
Waktu yang paling sempurna untuk berkunjung ke Puncak Becici yakni sore hari hingga matahari terbenam. Bradsis mampu menyaksikan sunset dari ketinggian dengan kota Yogyakarta dan Gunung Merapi terlihat dari kejauhan.
Menikmati Puncak Becici di atas hammock
Mas Alfian juga menyewakan hammock bagi para pengunjung yang dibuatnya sendiri. Harga sekali sewa ada tiga, mulai dari yang termurah IDR 10.000. Lalu ada juga yang 30.000 dan yang terakhir 60.000 rupiah. Perbedaan harga sesuai jumlah lapisan yang bekerjasama dengan kekuatan dan daya beban yang mampu ditahan masing-masing hammock. Biasanya pengunjung tidak hanya sewa satu hammock tapi beberapa untuk disusun bertingkat di batang-batang pinus yang ada.
Selain hammock, bro yang satu ini juga menyewakan tenda kapasitas 4 orang dengan harga IDR 50.000. Bradsis mampu pribadi datang dan menyewa tanpa repot menghubungi lebih dulu tapi kalau mau dihubungi lebih dulu juga mampu ke contact number mas Alfian di 08979519431. Oh iya, untuk biaya camping per orang dikenakan 5.000 rupiah dan jikalau membawa sepeda motor yang ditinggal di parkiran dikenakan biaya 5.000 rupiah lagi dan untuk kendaraan beroda empat 15.000 rupiah.

Sate Klathak Pak Pong
Setelah puas berwisata alam di Mangunan, balikpapanbiker kembali ke kota Gudeg melintasi rute yang sama dengan waktu berangkat tadi. Tapi kali ini tidak pribadi menuju Jogja tapi mampir dulu di warung makan yang cukup terkenal di Imogiri, yaitu Sate Klathak Pak Pong yang berada di Jl. Stadion Sultan Agung, Wonokromo, Pleret, Bantul.
Sate Klathak Pak Pong, Imogiri

Wah, ternyata rumah makan ini rame dengan pengunjung. Mobil dan sepeda motor parkir berjajar. Rumah makan ini menempati di kedua sisi tepi Jl. Stadion Sultan Agung. Sepeda motor parkir di sisi utara dan kendaraan beroda empat di selatan.
Sate klathak tidak diberi bumbu layaknya sate yang lain tapi hanya ditaburi garam dan daging kambing muda yang dipotong kecil-kecil tidak ditusuk dengan bambu tapi dengan jeruji besi roda sepeda sehingga jeruji ini menghantarkan panas dan mematangkan daging dari dalam. Disajikannyapun tidak dengan bumbu kacang atau kecap tapi dengan kuah gulai dan nasi putih. Dan tidak ada sambal yang disediakan, kalau bradsis pingin lebih pedas sudah tersedia cabe rawit di atas meja.
Sate klathak siap disantap

Sate klathak banyak terdapat di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini dan Sate Klathak Pak Pong yakni salah satu yang ternama dan terbesar.
Setelah puas menyantap satu porsi sate klathak dan es jeruk, balikpapanbiker kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di kota Jogja.
Yup, itu perjalanan solo riding balikpapanbiker kali ini, semoga mampu memberi info yang bermanfaat buat bradsis semua.
Jangan lupa setelah baca artikel ini di-comment ya browww… lebih ok lagi kalo di-sharing ke lainnya.
Thx all bro ‘n sis.

Titik Koordinat:

Kebun Buah Mangunan
7°56'28"S 110°25'29"E
Hutan Pinus Mangunan
7°55'8"S 110°26'9"E
Puncak Becici
7°54'2"S 110°26'3"E
Sate Klathak Pak Pong
7°52'16"S 110°23'16"E